Hak Asasi Manusia

Masih menjadi tanda tanya

Dalam kehidupan setiap manusia pastilah mempunyai hak dan kewajiban masing-masing. Hak yang dimiliki setiap manusia itu biasa kita sebut sebagai HAM atau Hak Asasi Manusia. Namun taukah anda apa itu HAM? Dan sudah maksimalkah penegakan HAM di Indonesia? Nahhh.. dalam tulisan saya kali ini saya ingin mengangkat sebuah tema tentang HAM.
HAM adalah hak dasar yang dimiliki setiap orang sejak lahir bahkan sudah dicantumkan dalam Undang- Undang Dasar 1945, seperti halnya pasal 27 ayat 1, pasal 28, pasal 29 ayat 2, pasal 30 ayat 1 dan pasal 31 ayat 1. Namun sudah maksimalkah penegakan HAM di negara kita ini, tentunya jawaban yang kita dengar akan beragam, “iya” bagi mereka yang tak pernah mengalami kasus-kasus terkait HAM. Dan “tidak” bagi mereka yang merasa Hak-haknya tlah terampas. Kebanyakan dari kita hanya memperdulikan diri kita, kerabat, dan mereka yang berhubungan dekat dengan kita, dan kita hampir tak pernah sejenak mengalihkan pandangan kita pada mereka yang tertindas, teraniaya, dan terampas haknya. Kita hanya berlomba-lomba berteriak sekencang mungkin saat seseuatu itu mengusik sseorang yang dekat dengan kita, tapi kita hanya diam, bahkan seolah-olah tidak tau-menau tentang apa yang menimpa sesama kita di luar sana. Bagaimana mungkin penegakan HAM di Indonesia bisa maksimal jikalau kita sebagai warga negaranya bersikap acuh terhadap kasus-kasus terkait HAM.
Mari kita sejenak membuka buku kenangan tragedi di Indonesia yang seakan tlah trtutup debu dan bagai angin yang terlewat begitu saja. Masih ingatkah anda tentang kejadian “Sampit”? sedikit saya mengulas tentang “Sampit”. Tragedi Sampi terjadi pada 18 Februari 2001 kejadian ini berawal dari sebuah pernikahan antara seorang putri kepala suku dari Kalimantan dengan seorang pemuda keturunan Madura, tepatnya dari Sampit. Entah apa yang terjadi dalam rumah tangga sepasang suami istri yang bebeda budaya ini, singkat kita tahu putri kepala suku dari Kalimantan ini terbunuh oleh suaminya sendiri. Masalah yang melatar belakangi pembunuhan ini seakan masih menjadi benang merah yang belum terkuak kebenarannya. Seperti halnya kita ketahui bersama, kebayakan suku-suku pedalaman di Indonesia, masih menganut hukum rimba. Siapa yang membunuh dia juga yang akan terbunuh. Sebagai kepala suku, tentunya dia tak terima putrinya meninggal dengan cara yang tidak wajar, terbunuh oleh suaminya sendiri, yang tak lain adalah menantunya. Sejak saat itu meletuslah seuah tragedi Sampit, disini bukan hanya pemuda itu yang dibunuh melainkan setiap orang yang dalam dirinya mengalir darah keturunan Madura, mereka serang secara membabi buta, tak sedikit korban yang berjatuhan, bahkan banyak anak balita tak bersalah mereka bunuh begitu saja. Miris rasanya, dimana hati nurani kita sebagai manusia?, dimana letak Hak Asasi Manusia?tak ada yang berani campur tangan untuk melerai, para aparat kepolisian pun hanya bisa berdiam, tak tergerak untuk menghentikan serangan suku Kalimantan tersebut.
Bukankah Negara sudah menjamin tentang HAM, terutama Hak untuk hidup, dan mendapat penghidupan yang layak? Namun mengapa masih terjadi tragedi Sampit? Sudah banyak kejadian ataupun kasus-kasus perampasan Ham di Indonesia, selain tragedi Sampit. Bila kita mau membuka mata kita dan melihat sekitar kita, masih banyak diantara kita yang berteriak untuk mendapatkan Haknya. Namun siapa yang patut kita salahkan dalam segala rangkaian peristiwa ini?  Kita bersamakah yang salah? Atu para penguasa yang duduk di kursi besar pemerintahannya? Tetapi untuk apa kita ribut mencari siapa yang salah dan saling menunjuk, menyalahkan orang lain? Menuntuk orang lain bersalah, bukankah empat jari kita justru mengarah pada diri kita sendiri? Coba sesekali kita belajar menunjuk diri kita sendiri bersalah, sebelum kita menunujuk orang lain bersalah. Penegakan HAM di Indonesia sudah menjadi tanggung jawab kita bersama. Tak harus kita bertindak membalas ataupun membela masayarakat Madura dengan ikut turun tangan dalam tragedi sampit, tohh.. kejadiannya juga sudah lewat, kita coba dari hal yang kecil terlebih dahulu. Dengan memperdulikan mereka yang ada di sekitar kita misalnya. Membantu mereka memperoleh haknya. Sepertihalnya demo mahasiswa memperjuang hak masyarakat kita yang terampas. Tetapi kita tidak boleh menelan mentah-mentah prnyataan di atas. Tergantung demo yang seperti apa dulu yang memang dibenarkan untuk memperjuangkan penegakan HAM. Kita yang berpendidikan dan mempunyai agama tentunya tahu bagaimana cara demo yang dibenarkan. Masalah pastilah ada dalam kehidupan seorang manusia, namun bergantung pada bagaimana cara kita menyikapi setiap permasalahan yang ada, begitu pula dengan kasus-kasus HAM. Mari kita bersama-sama berjuang dalam upaya penegakan HAM di Indonesia, agar negara kita menjadi salah satu negara yang sadar akan HAM.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s